Saturday, 27 May 2017

Filled Under:

Benarkah Wanita Yang Tidak Berjilbab Puasanya Tidak Diterima?

agama islam


Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Bulan Ramadhan bagi seorang muslim adalah suatu bonus yang hanya bisa kita dapatkan dalam waktu satu bulan dalam satu tahun, itu karena dibulan Ramadhan ini kita dapat mendapatkan berlipat lipat pahala jika seorang muslim melakukan suatu kebaikan dan akan dilipat gandakan dosanya bagi seseorang muslim yang melakukan perbuatan maksiat di waktu yang mulia ini yaitu di bulan Ramadhan. Mungkin hal seperti ini sudah terlihat biasa, bahkan membudaya karena ketidaktahuan oleh seseorang muslim mengenai hukum agama Islam. Lantas apakah kita tetap diam tanpa ingin mengetahui apakah hal tersebut dibenarkan dalam agama Islam?
Oleh karena saya pribadi masih bertanya tanya tentang pertanyaan ini, saya akhirnya mencoba untuk mengumpulan pendapat dari beberapa sumber yang saya cari di Google.

Al-Allamah Ibnu Muflih dalam kitabnya Adab Syar’iyah menyatakan,

فصل زيادة الوزر كزيادة الأجر في الأزمنة والأمكنة المعظمة

Pembahasan tentang kaidah, bertambahnya dosa sebagaimana bertambahnya pahala, (ketika dilakukan) di waktu dan tempat yang mulia.
Orang yang melakukan maksiat di bulan ramadhan, dia melakukan dua kesalahan, Pertama melanggar larangan Allah, kedua menodai kehormatan ramdhan dengan maksiat yang dia kerjakan.

Syaikh DR Yusuf Al Qardhawi menjelaskan, puasa adalah ibadah yang bertujuan untuk menyucikan jiwa, menghidupkan hati, menguatkan iman dan mempersiapkan menjadi seseorang yang bertaqwa. Sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)

Maka dari itu puasa bertujuan untuk menjauhkan kita dari perbuatan yang dapat mengotori dan merusak akhlak seorang muslim, dan kita diwajibkan menjaga mata, menjaga telinga, dan anggota badan lainnya dari kemaksiatan.

Karena itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi ancaman keras orang yang masih rajin bermaksiat ketika puasa.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari 1903, Turmudzi 711 dan yang lainnya).

Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan keterangan dari Ibnul Munayir:

هو كناية عن عدم القبول ، كما يقول المغضب لمن رد عليه شيئا طلبه منه فلم يقم به : لا حاجة لي بكذا . فالمراد رد الصوم المتلبس بالزور وقبول السالم منه

Ini merupakan ungkapan tidak diterimanya puasanya. Seperti orang yang sedang marah, ketika dia menyuruh orang lain tapi tidak dilakukannya, kemudian dia mengatakan, “Aku gak butuh itu.” Sehingga maksud hadis, menolak puasa orang yang masih aktif berbuat dosa, dan tidak menerima dengan baik darinya. (Fathul Bari, 4/117).

Membuka aurat dapat menebar dosa.

Disaat seorang wanita yang membuka aurat dapat menjadi sumber dosa bagi seseorang lelaki yang melihatnya, itulah penyebab seorang lelaki melakukan zina mata, dan tanpa malu mereka membuka auratnya di tempat umum dan di sosial media yang makin menjadi di era modern ini. Karena itu, kita perlu merenungi saat kita sedang memamerkan aurat, sekali berbuat dosa, bukan demikian, tapi juga perlu diperhatikan berapa jumlah lelaki yang terkena dampak dari dosa yang dia lakukan.
Karena itu, wajar jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ancaman sangat keras untuk model manusia semacam ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua jenis penghuni neraka yang belum pernah aku lihat. (1) Sekelompok orang yang membawa cambuk seperti ekor sapi, dan dia gunakan untuk memukuli banyak orang. (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, jalan berlenggak-lenggok, kepalanya seperti punuk onta, mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan harumnya surga, padahal bau harum surga bisa dicium sejarak perjalanan yang sangat jauh.” (HR. Ahmad 8665 dan Muslim 2128).

Timbul di dalam benak kita mengenai pertanyaan apakah hukum puasanya kaum perempuan yang tidak menutup aurat mereka? mantan Mufti Syeikh Ali Jum’ah beserta Lembaga Fatwa Mesir “Darul ifta” pernah membahas persoalan ini beberapa tahun yang lalu.

Berikut sepenggalan arsip jawaban mantan mufti Mesir dan Darul ifta mengenai hukum puasa perempuan yang tidak berjilbab?

Pakaian yang menutup aurat adalah wajib hukumnya baik kaum laki-laki ataupun perempuan sesuai dengan syariat yang telah diturunkan Allah Subhanahu Wata’ala kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassallam, yaitu tidak menampakan lekuk tubuh sehingga dapat mengundang syahwat.

Di dalam Islam Allah telah menegaskan bahwa suatu kewajiban tidak akan terpisah dari kewajiban lainnya, seperti orang yang berpuasa tidak akan pernah dibenarkan sama sekali untuk meninggalkan shalat, dan mereka yang shalat dan berpuasa tidak dibenarkan sama sekali untuk tidak memakai pakaian yang sesuai dengan syariat.

Muslimah yang baik adalah mereka yang mendirikan shalat wajib dan berpuasa di bulan suci Ramadhan serta menjaga auratnya. Sedangkan mereka yang tetap mendirikan shalat dan berpuasa tetapi tidak mengenakan jilbab, hanya Allah sendiri yang tahu dan bagaimana mengganjar hamba tersebut.

Akan tetapi janganlah berkecil hati karena kita selalu diperintahkan untuk tidak selalu berhusnudzhon kepada Allah bahwa perbuatan baik kita akan dapat menghapus dosa-dosa kita, dengan syarat membuka lembaran baru dan bertobat nasuha atas segala yang telah dilakukan sebelumnya.
Oleh karena itu bagi kaum Muslimah yang belum menyempurnakan kewajibannya, hendaklah momen bulan Ramadhan menjadi titik tolak untuk selalu menyempurnakan kewajiban-kewajiban yang sebelumnya ditinggalkan.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kesimpulan dari beberapa pendapat di atas adalah, puasa seorang muslimah yang tidak berjilbab akan hanya mendapat haus dan lapar tanpa mendapatkan pahalanya di bulan Ramadhan, di luar itu ketika mereka melakukan kebaikan akan ia dapatkan pahala karena kebaikannya tersebut, Wallahu A'lam Bishawab

Alfa Niam

Author & Editor

Seorang jomblo fisabilillah(23 y.o), sengaja gak pacaran karena kata pak Uztad pacaran itu haram. Jika ada pertanyaan atau order blog/website desain dll. yang belum bisa saya jawab silahkan kontak saya di 082137433799(whatsapp).

0 comments:

Post a Comment

 

We are featured contributor on entrepreneurship for many trusted business sites:

  • Copyright © Elba Regetta™ is a registered trademark.
    Designed by Templateism. Hosted on Blogger Templates.